Home » » Bahan Ajar Program Khusus BKPBI

Bahan Ajar Program Khusus BKPBI


A. Pengertian
Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama bukan merupakan suatu bidang studi khusus, namun merupakan suatu proses penilaian untuk memperoleh gambaran terhadap performa siswa dalam mendeteksi dan memahami bunyi. Hyde (1991) mengemukakan bahwa kegiatan BKPBI dapat dibedakan dalam : 1) asesmen kemampuan dengar (hearing assessment) yang dipresentasikan oleh audiogram sebagai hasil pengukuran klinis serta terkait dengan pemilihan alat bantu mendengar yang sesuai dan 2) keterampilan menyimak/mendengarkan (listening skill) yang berkaitan dengan seberapa jauh penyandang tunarungu masih bisa memanfaatkan pendengarannya untuk mempersepsi dan memahami bunyi-bunyi terutama bunyi cakupan/wicara dalam lingkungan hidup yang wajar.

 Mengingat BKPBI tertuang dalam struktur kurikulum sebagai program khusus dalam pendidikan anak tunarungu serta dengan memperhatikan uraian Hyde di atas, maka konsekuensi logis dalam persekolahan tunarungu selayaknya dilakukan pemeriksaan pendengaran secara periodik untuk mengetahui tingkat kehilangan pendengaran anak. Dengan latihan-latihan keterampilan menyimak atau mendengarkan diharapkan syaraf-syaraf pendengaran yang tidur (letargik) akan menjadi lebih peka terhadap rangsangan bunyi. Hal ini senada dengan pendapat Subarto (1993: 66) : “Yang dimaksud dengan BKPBI ialah pembinaan dalam penghayatan bunyi yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja, sehingga sisa-sisa pendengaran dan perasaan vibrasi yang dimiliki anak-anak tunarungu dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk berintegrasi dengan dunia sekelilingnya yang penuh bunyi”.

Pembinaan secara sengaja yang dimaksud adalah bahwa pembinaan itu dilakukan secara terprogram; tujuan, jenis pembinaan, metode yang digunakan dan alokasi waktunya sudah ditentukan sebelumnya. Sedangkan pembinaan secara tidak sengaja adalah pembinaan yang spontan karena anak bereaksi terhadap bunyi latar belakang yang hadir pada situasi pembelajaran di kelas, seperti bunyi motor, bunyi helikopter atau halilintar, kemudian guru membahasakannya. Misalnya, “Oh kalian dengar suara motor ya ? Suaranya ‘brem... brem... brem...’ benar begitu ?”. Kemudian guru mengajak anak menirukan bunyi helikopter dan kembali meneruskan pembelajaran yang terhenti karena anak bereaksi terhadap bunyi latar belakang tadi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Support :
ABBAS Android Blogger Karawang