Contoh RPP SMP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) 1.1


Sekolah
:
SMPLB
Mata Pelajaran
:
Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester
:
VII / 1
Standar Kompetensi
:
1. Menerapkan Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al”Qomariyah
Kompetensi Dasar
:
1.1. Menjelaskan hukum bacaan bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al”Qomariyah
Alokasi Waktu
:
1  X  40 menit ( 1 pertemuan)

Tujuan Pembelajaran 
Siswa dapat menjelaskan pengertian "Al" Syamsiyah, "Al" Qamariyah dan menyebutkan huruf-huruf  Syamsiyah maupun Qamariyah.

Materi Pembelajaran   
  • Pengertian "Al" Syamsiyah
  • Pengertian "Al" Qamariyah
  • Huruf-huruf  Syamsiyah
  • Huruf-huruf Qamariyah

Metode Pembelajaran 
  • Ceramah
  • Tanya jawab
  • CTL

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Pendahuluan
  • Guru bertanya mengenai ilmu tajwid.
  • Guru memotivasi siswa mengenai keutamaan belajar ilmu tajwid dan manfaatnya.
  • Guru memilih beberapa siswa yang mempunyai kemampuan membaca Al Qur'an di atas rata-rata untuk menjadi tutor sebaya.
  • Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil (small group) dan menempatkan tutor sebaya dalam setiap kelompok.

Kegiatan Inti
·         Guru menjelaskan ketentuan-ketentuan bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif lam Qamariyah.
·         Guru memberi penjelasan singkat mengenai pengertian “Al” Syamsiyah dan Qamariyah
·         Siswa mencari, menemukan, dan mengklasifikasikan huruf-huruf syamsiyahd an qamariyah dalam kelompok masing-masing.
·         Siswa berdiskusi dan mengidentifikasi lafaz yang mengandung bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Qamariyah, menyampaikan kesulitan-kesulitan yang dialami dalam kelompok masing-masing, guru sebagai fasilitator.

Kegiatan Penutup
1.      Guru bersama siswa melakukan refleksi mengenai kegiatan belajar dalam KD ini. Bermanfaat atau tidak ? Menyenangkan atau tidak ?

Sumber Belajar           
·        Buku Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP, Jilid 1/ Kelas VII, Edisi Standar Isi 2006, Tim Abdi Guru, Penerbit Erlangga, Jakarta
·        LKS MGMP PAI  SMP
·        Mushaf Al-Qur’an
·        VCD pembelajaran


Penilaian    :                 

Standar Kompetensi


Kompetensi Dasar


Indikator
KK
Aspek
Teknik Penilaian





1. Menerap-kan Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al”Qomariyah
1.1. Menjelaskan hukum bacaan bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al” Qomariyah
§ Menjelaskan pengertian "Al" Syamsiyah

§ Menjelaskan pengertian "Al" Qamariyah

§ Menyebutkan huruf-huruf  Syamsiyah

§ Menyebutkan huruf-huruf Qamariyah

Pengetahu-an/Kognitif



v
v

v


Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM )

Kompetensi Dasar/Indikator
Kriteria Pencapaian Ketuntasan Belajar Siswa (KD/Indikator)
Kriteria Ketuntasan Minimal
Komplek
Sitas
Daya dukung
Intake
Penget
Praktik
1.    Menerap-kan Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al”Qomariyah

§   Menjelaskan pengertian "Al" Syamsiyah

§   Menjelaskan pengertian "Al" Qamariyah

§   Menyebutkan huruf-huruf  Syamsiyah

§   Menyebutkan huruf-huruf Qamariyah






Instrumen
1.         Jelaskan pengertian “Al” Syamsiyah !
2.         Sebutkan huruf-huruf syamsiyah !
3.         Jelaskan pengertian “Al” Qamariyah !
4.         Sebutkan huruf-huruf qamariyah!
5.         Apakah arti lafal syamsiyah?
6.         Apakah arti lafaz qamariyah?
7.         Mengapa “Al” Syamsiyah disebut juga idgham syamsiyah?
8.         Mengapa “Al” Qamariyah disebut juga izhar qamariyah?

........................., ................ 20.....
Mengetahui                                                      Guru Mapel PAI
Kepala Sekolah




________________                                        ___________________
NIP                                                                   NIP                    


Saran Kepala Sekolah:
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
           

Istimewanya Anak-Anak Istimewa


Istimewanya Anak-Anak Istimewa
Oleh Untuk SDR dari  Dewi Muchtar
 
Bersama Luthfi Azzuhdi
Saat ini ada 3 sampai 4 juta anak-anak dengan kesulitan belajar spesifik di Indonesia.
Padahal, mereka memiliki potensi intelektual yang baik namun tidak muncul
dalam prestasi belajar di sekolah.
Perasaan Thea, 45 tahun, tak menentu dan jantungnya deg-degan saat kepala sekolah membagikan hasil nilai ujian siswa kelas 6 SD Pantara, yang terletak di Jalan Senopati Raya, Kebayoran Baru, Jakarta.
Seperti ibu-ibu lainnya, Thea tengah menunggu hasil ujian akhir putri sulungnya, Widiarthi Kusumoningtyas, 12, atau yang akrab disapa Ajeng. Tak sampai menunggu lama, wajah ibu tiga putra ini berubah ceria ketika membaca pengumuman yang tertera di lembar kertas ukuran kwarto itu. Matanya terbelalak takjub dengan nilai yang tertera, Ajeng lulus dengan nilai rata-rata 7,5.

Saran Dokter Pribadi
Saat diberitahu bahwa Ajeng berprestasi sebagai juara umum di sekolah, anak itu justru biasa-biasa saja menanggapi. Thea, memahami betul keadaan putrinya yang satu ini, yang disebut sebagai anak learning differences (LD). “Dia memang tidak mengerti apa makna keberhasilannya ini. Dari tadi dia cuek saja tuh. Sama sekali nggak menanyakan apakah dia lulus atau tidak. Tapi, tidak semua ya anak-anak seperti dia berlaku seperti itu, karena ada juga yang sibuk bertanya pada orangtuanya,” ungkap Thea. 
Thea mengetahui Ajeng mengalami kesulitan belajar ketika putrinya berusia tiga tahun. Akibat hiperaktivitas yang ditunjukkan Ajeng sejak masuk sekolah, membuat ibu satu ini terpaksa memindahkan Ajeng dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Ia tak kuat menghadapi putrinya tak dipedulikan oleh guru. Sampai akhirnya Thea mendapat saran dari dokter pribadi Ajeng agar putrinya dimasukkan ke sekolah yang memang spesial menangani anak dengan kesulitan khusus dalam belajar.
Eiit, jangan salah sangka dulu. Meski mengalami kesulitan belajar, Ajeng memiliki otak yang encer. Namun, memang tidak kelihatan ketika dia masih di sekolah umum. ”Karena guru di sekolah umum tidak mengerti penanganan anak-anak seperti Ajeng. Ajeng itu kan selain sulit konsentrasi juga hiperaktif. Perjuangannya sungguh luar biasa. Kalau kelewat dikerasi dia lebih keras dari kita. Sementara kalau dihalusi, dia malah memanfaatkan kelemahan saya.” Saat ini, Thea mengaku sedang mempersiapkan Ajeng menghadapi dunia barunya di SMP umum nanti. Itu artinya Ajeng harus siap bersosialisasi di sekolah yang kenyataannya bukan untuk anak-anak yang memiliki permasalahan dalam belajar; membaca (disleksia), menulis (disgrafia), berhitung (diskalkulia), berbicara (disparksia), dan berkonsentrasi (ADD/ADHD), seperti Ajeng dan teman-temannya di SD Pantara.

Melamun Saat Diterangkan
Ternyata anak kedua Thea, Bambang Wyasa Juliartho, 8, atau akrab disapa Dimas, juga mengalami hal yang serupa dengan kakaknya. ”Tapi, yang sedikit melegakan, kondisi Dimas tidak seberat Ajeng. Kalau Dimas cuma ADD atau bermasalah dalam berkonsentrasi, tapi nggak hiperaktif seperti kakaknya. Kesulitan dia di sekolah, gurunya menerangkan suatu materi pelajaran dia malah melamun. Jadi, kalau dia ditanya, ya dia nggak tahu,” ujar Thea yang baru memindahkan Dimas ke SD Pantara sekitar dua bulan lalu.
Sementara itu Alif, 9 tahun, siswa kelas 3 di sekolah yang sama, menurut Widi, ibunya, kondisinya sama dengan Dimas yang juga mengalami kesulitan berkonsentrasi. Namun, belakangan Widi melihat perkembangan Alif yang cukup baik, karena di luar sekolah putra semata wayangnya itu diikutkan kursus piano. ”Konsentrasi Alif lebih terlatih. Saya melihat, selama memainkan tuts piano konsentrasinya sama sekali tidak terpecah. Sebagai orangtua, terus terang saya tidak begitu mengerti mengenai istilah yang disampaikan dokter tentang anak saya. Tapi saya ingin yang terbaik buat Alif. Makanya, saat dokter bilang dia harus diterapi ini dan itu, saya menurut saja. Yang penting Alif bisa tumbuh seperti anak-anak lain. Butuh kesabaran lebih karena Alif terkadang tulallit,” ujar ibu muda yang pintar bernyanyi ini.

Diperlukan Kerjasama
Apa itu anak LD? Menurut Untung Sudrajat, S.Pd., Kepala SD Pantara, mereka adalah anak atau individu yang memiliki cara atau gaya belajar yang berbeda (learning differences). Pada awalnya dipakai istilah learning disability atau ketakmampuan belajar. Namun, istilah tersebut mulai ditinggalkan karena dinilai memberi konotasi negatif. Seolah-olah mereka adalah anak-anak yang tidak memiliki masa depan dan tidak mampu belajar dengan baik.
Anak LD adalah anak yang memiliki disfungsi minimum di otak (DMO), yang menyebabkan tercampur-aduknya sinyal-sinyal antara indera dan otaknya. Termasuk di dalamnya mereka yang memiliki gangguan konsentrasi dan hiperaktivitas (ADD/ADHD). Meski begitu anak LD adalah individu yang memiliki kecerdasan normal bahkan di atas normal. Tetapi mereka memiliki masalah dalam pemrosesan informasi di otaknya, ketika menerima stimuli melalui indera. Tak heran, karena masalah yang dialaminya, sering ditemukan perbedaan nyata antara hasil tes IQ dengan prestasi akademiknya di sekolah.
”Problem anak LD tidak disebabkan oleh faktor eksternal atau faktor kecacatan fisik dan mental. Melainkan lebih disebabkan oleh disfungsi minimum di otaknya,” ujar Untung. Dikatakan Untung lagi, anak LD biasanya memiliki krisis kepercayaan dalam dirinya. Bahkan mereka juga terlihat kurang dewasa dibanding anak seusianya. Kondisi LD juga cenderung mempengaruhi koordinasi fisik dan perkembangan emosi mereka.
”Sebagai contoh Ajeng. Secara akademik cerdas, bahkan ia mampu meraih predikat juara umum di sekolahnya. Tetapi secara sosial ia kurang pede. Kadang-kadang muncul mekanisme pertahanan diri: sering beralasan atau menyalahkan pihak lain kalau ia melakukan kekeliruan. Namun, kadang pula ia melakukan hal itu tanpa disadarinya secara penuh,” papar Untung lagi.
Kerjasama orangtua dengan guru memang sangat menentukan untuk meraih keberhasilan. Terutama untuk mendorong anak-anak LD ini mampu mengontrol dirinya. Kata kunci yang paling tepat dalam menangani mereka adalah konsitensi. ”Target yang kita harapkan adalah anak dapat mengontrol dirinya sendiri. Intinya bukan dengan menghilangkan gejala seperti orang sembuh dari penyakit—karena LD sendiri bukanlah penyakit. Pihak sekolah hanya berupaya seoptimal mungkin melatih agar mereka dapat mengontrol dirinya sendiri,” urai Untung. 

Peranan Guru Dalam Pembelajaran Inkuri



Dalam model pembelajaran inkuiri guru mesti mampu menciptakan kelas sebagai laboratorium demokrasi, supaya pelajar terlatih dan terbiasa berbeda pendapat. Kebiasaan ini penting dikondisikan sejak di bangku sekolah, agar pelajar memiliki sikap jujur, sportif dalam mengakui kekurangannya kendiri dan siap menerima pendapat orang lain yang lebih baik, serta mampu mencari penyelesaian masalah.
Peranan guru dalam pelaksanaan pembelajaran inkuiri adalah sebagai fasilitator, mediator, director-motivator, dan evaluator.
Sebagai fasilitator seorang guru mesti memiliki sikap-sikap sebagai berikut (Roger dalam Djahiri, 1980) :
  1. Mampu menciptakan suasana bilik darjah yang nyaman dan menyenangkan,
  2. Membantu dan mendorong pelajar untuk mengungkapkan dan menjelaskan keinginan dan pembicaraannya baik secara individual maupun kumpulan,
  3. Membantu kegiatan-kegiatan dan me-nyediakan sumber atau peralatan serta membantu kelancaran belajar mereka,
  4. Membina siswa agar setiap orang merupakan sumber yang bermanfaat bagi yang lainnya,
  5. Menjelaskan tujuan kegiatan pada kelompok dan mengatur penyebaran dalam bertukar pendapat.
Sebagai mediator, guru berperan sebagai penghubung dalam menjembatani mengaitkan materi pembelajaran yang sedang dibahas melalui pembelajaran koperatif dengan permasalahan yang nyata ditemukan di lapangan. Peranan ini sangat penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) yaitu istilah yang dikemukakan oleh Ausubel untuk menunjukan bahan yang dipelajari memiliki kaitan makna dan wawasan dengan apa yang sudah dimiliki oleh siswa sehingga mengubah apa yang menjadi milik siswa. (Hasan, 1996).
Disamping itu juga, guru berperan dalam menyediakan sarana pembelajaran, agar suasana belajar tidak monoton dan membosankan. Dengan kreativitasnya, guru dapat mengatasi keterbatasan sarana sehingga tidak menghambat suasana pembelajaran di kelas.
Sebagai Director-Motivator, Peran ini sangat penting karena mampu membantu kelancaran diskusi kumpulan, Guru berperan dalam membimbing serta mengarahkan jalannya diskusi, membantu kelancaran diskusi tapi tidak memberikan jawaban.
Disamping itu sebagai motivator guru berperan sebagai pemberi semangat pada siswa untuk aktif berpartisipasi. Peran ini sangat pentng dalam rangka memberikan semangat dan dorongan belajar kepada siswa dalam mengembangkan keberanian siswa baik dalam mengembangkan keahlian dalam bekerjasama yang meliputi mendengarkan dengan seksama, mengembangkan rasa empati. maupun berkomunikasi saat bertanya, mengemukakan pendapat atau menyampaikan permasalahannya.
Menurut Gulo (2002), peranan utama guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
  1. Motivator, yang memberikan rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berpikir,
  2. Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berpikir siswa,
  3. Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberikan keyakinan pada diri sendiri,
  4. Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di dalam kelas,
  5. Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan,
  6. Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas,
  7. Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.

Menurut Memes (2000), ada enam langkah yang diperhatikan dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing, yaitu :
(1) Merumuskan masalah,
(2) Membuat hipotesa,
(3) Merencanakan kegiatan,
(4) Melaksanakan kegiatan,
(5) Mengumpulkan data,
(6) Mengambil kesimpulan.
Enam langkah pada inkuiri terbimbing ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Para siswa akan berperan aktif melatih keberanian, berkomunikasi dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan ma-salah yang dihadapi. Tugas guru adalah mempersiapkan skenario pembelajaran sehingga pembelajarannya dapat berjalan dengan lancar.
Dengan pemahaman terhadap langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran imkuiri ini, maka guru sudah harus memulai dari sekarang bagi guru-guru yang baru mengetahui dan mempelajari model pembelajaran ini. Demikian pula bagi guru-guru yang sudah pernah dan jarang menggunakan model pembelajaran inkuiri ini, kiranya lebih dapat meningkatkan dan meng-efektifkan lagi, sehingga model pembelajaran inkuiri ini benar-benar mampu memberikan nilai tambah di dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Sebagai seorang guru, tentunya tidak hanya sekedar mengetahui dan memahami konsep model pembelajaran inkuiri saja, akan tetapi sudah menjadi kewajibannya untuk dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya. 


Kata Kerja Operasional Indikator

 
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar, KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. 
Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:
  1. tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD;
  2. karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
  3. potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.
Berikut adalah kata kerja operasional dengan tiga ranah yang biasa dipergunakan untuk menyusun indikator.

A. Ranah Kognitif

  1. Pengetahuan (C1) : 
Mengutip, Menyebutkan, Menjelaskan, Menggambar, Membilang, Mengidentifikasi, Mendaftar, Menunjukkan, Memberi label, Memberi indeks, Memasangkan, Menamai, Menandai, Membaca, Menyadari, Menghafal, Meniru, Mencatat, Mengulang, Mereproduksi, Meninjau, Memilih, Menyatakan, Mempelajari, Mentabulasi, Memberi kode, Menelusuri, Menulis
  1. Pemahaman (C2) : 
Memperkirakan, Menjelaskan, Mengkategorikan, Mencirikan, Merinci, Mengasosiasikan, Membandingkan, Menghitung, Mengkontraskan, Mengubah, Mempertahankan, Menguraikan, Menjalin, Membedakan, Mendiskusikan, Menggali, Mencontohkan, Menerangkan, Mengemukakan, Mempolakan, Memperluas, Menyimpulkan, Meramalkan, Merangkum, Menjabarkan
  1. Penerapan (C3) :
 Menugaskan, Mengurutkan, Menerapkan, Menyesuaikan, Mengkalkulasi, Memodifikasi, Mengklasifikasi, Menghitung, Membangun , Membiasakan, Mencegah, Menentukan, Menggambarkan, Menggunakan, Menilai, Melatih, Menggali, Mengemukakan, Mengadaptasi, Menyelidiki, Mengoperasikan, Mempersoalkan, Mengkonsepkan, Melaksanakan, Meramalkan, Memproduksi, Memproses, Mengaitkan, Menyusun, Mensimulasikan, Memecahkan, Melakukan, Mentabulasi, Memproses, Meramalkan
  1. Analisis (C4) :  
Menganalisis, Mengaudit, Memecahkan, Menegaskan, Mendeteksi, Mendiagnosis, Menyeleksi, Merinci, Menominasikan, Mendiagramkan, Megkorelasikan, Merasionalkan, Menguji, Mencerahkan, Menjelajah, Membagankan, Menyimpulkan, Menemukan, Menelaah, Memaksimalkan, Memerintahkan, Mengedit, Mengaitkan, Memilih, Mengukur, Melatih, Mentransfer
  1. Sintesis (C5) :  
Mengabstraksi, Mengatur, Menganimasi, Mengumpulkan, Mengkategorikan, Mengkode, Mengombinasikan, Menyusun, Mengarang, Membangun, Menanggulangi, Menghubungkan, Menciptakan, Mengkreasikan, Mengoreksi, Merancang, Merencanakan, Mendikte, Meningkatkan, Memperjelas, Memfasilitasi, Membentuk, Merumuskan, Menggeneralisasi, Menggabungkan, Memadukan, Membatas, Mereparasi, Menampilkan, Menyiapkan Memproduksi, Merangkum, Merekonstruksi
  1. Penerapan (C6) :
Membandingkan, Menyimpulkan, Menilai, Mengarahkan, Mengkritik, Menimbang, Memutuskan, Memisahkan, Memprediksi, Memperjelas, Menugaskan, Menafsirkan, Mempertahankan, Memerinci, Mengukur, Merangkum, Membuktikan, Memvalidasi, Mengetes, Mendukung, Memilih, Memproyeksikan

B. Ranah Afektif

  1. Menerima
Memilih, Mempertanyakan, Mengikuti, Memberi, Menganut, Mematuhi, Meminati
  1. Menanggapi : 
Menjawab, Membantu, Mengajukan, Mengompromika, Menyenangi, Menyambut, Mendukung, Menyetujui, Menampilkan, Melaporkan, Memilih, Mengatakan, Memilah, Menolak
  1. Menilai : 
Mengasumsikan, Meyakini, Melengkapi, Meyakinkan, Memperjelas, Memprakarsai, Mengimani, Mengundang, Menggabungkan, Mengusulkan, Menekankan, Menyumbang


Support :
ABBAS Android Blogger Karawang